Minggu, 21 Juni 2020

Kenapa Manusia diuji?

Kita bersaksi bahwa tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah SWT dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah yang terakhir diutus ke muka bumi ini. Dan alam semesta beserta isinya baik manusia, hewan dan tumbuhan adalah makhluk ciptaan-Nya.

Kita ketahui bahwa beragam jenis warna kulit, mata, rambut manusia kemudia beragam tumbuhan sesuai jenis tanahnya kemudian beragam hewan sesuai iklim dan kondisi wilayahnya. Maha Besar Allah dengan segala ciptaan-Nya.

Kemudian manusia dengan keberagaman agama yang dianut tentu ini bukan tanpa sebab, sebagaimana firman Allah SWT:

"Dan Kami telah menurunkan Kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, yang membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan menjaganya, maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti keinginan mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Kalau Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah diberikan-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah kamu semua kembali, lalu diberitahukan-Nya kepadamu terhadap apa yang dahulu kamu perselisihkan,(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 48).

Jika Allah menghendaki, niscaya kita dijadikan-Nya satu umat saja, akan tetapi Allah hendak menguji kita.
Ujian atau musibah ini mengampiri kepada siapapun terkhusus kepada orang yang beriman. Ujian ini bermacam-macam bentuk ujiannya. Ujian yang diberikan dalam bentuk sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan.

Sebagai dijelaskan melalui firman Allah SWT:

"Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar," (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 155).

Didalam Al-Qur’an, ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang ujian berjumlah 32 ayat.
Setelah kata-kata menguji/ujian di Ayat yang sama biasanya Allah akan menjelaskan tujuan diujinya manusia tersebut. Tujuan diujinya manusia tersebut ada 6 hal sebagai berikut:

1.      Menguji keimanan seseorang apakah orang tersebut benar-benar beriman atau tidak benar-benar beriman
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
"Dan apa yang menimpa kamu ketika terjadi pertemuan (pertempuran) antara dua pasukan itu adalah dengan izin Allah, dan agar Allah menguji siapa orang (yang benar-benar) beriman,"(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 166).

2.      Menguji siapa orang-orang yang beriman atau termasuk orang yang munafiq
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
"Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta,"(QS. Al-'Ankabut 29: Ayat 3).

3.      Siapa orang-orang yang bersabar atau orang-orang yang tidak bersabar.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
"Dan sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu sehingga Kami mengetahui orang-orang yang benar-benar berjihad dan bersabar di antara kamu; dan akan Kami uji perihal kamu,"(QS. Muhammad 47: Ayat 31).

4.      Siapa orang-orang yang bersyukur atau orang-orang yang tidaak bersyukur.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
"Demikianlah, Kami telah menguji sebagian mereka (orang yang kaya) dengan sebagian yang lain (orang yang miskin), agar mereka (orang yang kaya itu) berkata, Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah oleh Allah? (Allah berfirman), Tidakkah Allah lebih mengetahui tentang mereka yang bersyukur (kepada-Nya)?,"(QS. Al-An'am 6: Ayat 53).

"Seorang yang mempunyai ilmu dari Kitab berkata, Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip. Maka ketika dia (Sulaiman) melihat singgasana itu terletak di hadapannya, dia pun berkata, Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya). Barang siapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barang siapa ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya, Maha Mulia,"(QS. An-Naml 27: Ayat 40).

5.      Siapa yang paling terbaik amal dan perbuatannya.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
"Dan Dialah yang menciptakan langit dan Bumi dalam enam masa, dan 'Arsy-Nya di atas air, agar Dia menguji siapakah di antara kamu yang lebih baik amalnya. Jika engkau berkata (kepada penduduk Mekah), Sesungguhnya kamu akan dibangkitkan setelah mati, niscaya orang kafir itu akan berkata, Ini hanyalah sihir yang nyata,"(QS. Hud 11: Ayat 7).

"Sesungguhnya Kami telah menjadikan apa yang ada di bumi sebagai perhiasan baginya, untuk Kami menguji mereka, siapakah di antaranya yang terbaik perbuatannya,"(QS. Al-Kahf 18: Ayat 7).

"yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun,"(QS. Al-Mulk 67: Ayat 2).

6.      Agar orang tersebut kembali ke jalan yang benar agar bertaubat kepada Allah SWT.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
"Dia (Daud) berkata, Sungguh, dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk (ditambahkan) kepada kambingnya. Memang banyak di antara orang-orang yang bersekutu itu berbuat zalim kepada yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan; dan hanya sedikitlah mereka yang begitu. Dan Daud menduga bahwa Kami mengujinya; maka dia memohon ampunan kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertobat,"(QS. Sad 38: Ayat 24).

"Dan sungguh, Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit), kemudian dia bertobat,"(QS. Sad 38: Ayat 34).

Ayat-ayat diatas sudah gamblang dan jelas, menjelaskan tujuan diujinya seseorang oleh Allah SWT. Orang-orang yang dimaksud diatas adalah orang-orang Muslim ya (orang yang beragama Islam). Ujian-ujian yang diberikan agar terbukti bahwa seseorang itu adalah orang benar-benar beriman atau tidak benar-benar beriman, orang beriman atau orang munafiq, siapa orang yang banyak amalnya, orang yang bersabar dan bersyukur serta orang-orang yang senantiasa bertaubat.

Sedangkan orang-orang kafir, Allah berikan kesenangan di Dunia dan Allah kunci hati mereka sehingga mereka tidak akan mendapatkan petunjuk dan hidayah terkecuali yang Allah kehendaki. Bukan hanya kita saja yang diuji Nabi dan Rasul pun diuji oleh Allah SWT dengan ujian yang keras.

“(Orang yang paling keras ujiannya adalah) para nabi, kemudian yang semisalnya dan yang semisalnya, diuji seseorang sesuai dengan kadar agamanya, kalau kuat agamanya maka semakin keras ujiannya, kalau lemah agamanya maka diuji sesuai dengan kadar agamanya. Maka senantiasa seorang hamba diuji oleh Allah sehingga dia dibiarkan berjalan di atas permukaan bumi tanpa memiliki dosa,”(HR. At-Tirmidzy, Ibnu Majah, berkata Syeikh Al-Albany: Hasan Shahih).

Hikmah dibalik ujian ataupun musibah adalah untuk menambahkan pahala untuk kita dan menggugurkan dosa serta mengangkat derajat orang tersebut serta, sebagai mana Firman Allah SWT dan hadist dibawah ini:

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
"Balasan bagi mereka ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan (itulah) sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal,"(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 136).

"Dan setiap yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Barang siapa menghendaki pahala dunia, niscaya Kami berikan kepadanya pahala (dunia) itu, dan barang siapa menghendaki pahala akhirat, Kami berikan (pula) kepadanya pahala (akhirat) itu, dan Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur,"(QS. Ali 'Imran 3: Ayat 145).

"Katakanlah (Muhammad), Wahai hamba-hamba-Ku yang beriman! Bertakwalah kepada Tuhanmu. Bagi orang-orang yang berbuat baik di dunia ini akan memperoleh kebaikan. Dan Bumi Allah itu luas. Hanya orang-orang yang bersabarlah yang disempurnakan pahalanya tanpa batas,"(QS. Az-Zumar 39: Ayat 10).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Tidaklah menimpa seorang mukmin sebuah musibah, duri atau musibah yang lebih besar dari itu kecuali Allah akan mengangkat derajatnya atau menggugurkan dosanya,”(HR. Al-Bukhari dan Muslim, dan lafadznya milik Imam Muslim).

So, jangan bersedih hati jika kita terus-terusan diuji oleh Allah SWT. Yang terpenting adalah bagaimana kita lulus dihadapan Allah terkait ujian tersebut. Ya namanya ujian sama seperti ujian pas di Sekolah atau dibangku Kuliah ada nilai standart minimum jika dikatakan lulus atau tidak lulus. Dan hanya Allah dan diri kita yang mengetahui apakah kita lulus dari ujian-ujian tersebut. Sehingga hasil dari ujian ini Allah SWT menambahkan pahal bagi kita dan berguguranlah dosa-dosa serta Allah SWT meninggikan derajat kita.

Allahummaamiin 3x.

Allahu’alam bishowab.

Bandung, 21 Juni 2020

@Yeni_s.m

Tips dan Trik Menghapal Al-Qur'an Semudah Senyum

Hari ini, Kita telah memasuki hari ke-10 di Bulan Ramadhan.

Jangan sampai Ramadan berakhir namun dosa-dosa kita belum diampuni. Mari kita baca sejenak hadist ini:

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam beliau bersabda,
“Celakalah seorang hamba yang mendapati bulan Ramadhan kemudian Ramadhan berlalu dalam keadaan dosa-dosanya belum diampuni.” (HR. Ahmad, shahih)

Tips dan Trik Menghapal Al-Qur'an semudah senyum sebagai berikut :

  1. Niatkan menghapal Al-Qur'an karena Allah SWT bukan untuk pujian manusia karena benyaknya hapalan usahakan banyaknya jumlah hapalan tidak diketahui orang lain, InsyaAllah, Allah akan memudahkan jalan kita untuk menambah hapalan kita.
  2. Meluangkan waktu khusus buat Menghapal Al-Qur'an, yang paling bakm adalah subuh/malam karena diwaktu itu bacaan berkesan dan keadaan sepi.
  3. Mushaf/Al-Qur'an yang digunakan tidak berubah, hanya memakai satu mushaf tidak ganti-ganti.
  4. Bacalah ayat yang ingin dihapal berulang-ulang paling tidak 20 x. Jika, terlalu berat 1 ayat, bisa sepenggal kalimat (penggalan kalimatnya tepat ya).
  5. Usahakan dihapal dalam satu duduk untuk awalan ayat yang sekiranya sama misal awalan ayat.

Hadist ini untuk pengingat bagi kita semua.
Dari Umamah RA bahwa Nabi SAW bersabda, ''Bacalah Alquran, karena dia akan datang pada hari kiamat sebagai pembela (pemberi syafaat) bagi orang yang mempelajari dan menaatinya.'' (HR Muslim)

Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Ditawarkan kepada penghafal al-Quran, “Baca dan naiklah ke tingkat berikutnya. Baca dengan tartil sebagaimana dulu kamu mentartilkan al-Quran ketika di dunia. Karena kedudukanmu di surga setingkat dengan banyaknya ayat yang kamu hafal.” (HR. Abu Daud 1466, Turmudzi 3162 dan dishahihkan al-Albani)

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
Orang yang membaca dan menghafal al-Quran, dia bersama para malaikat yang mulia. Sementara orang yang membaca al-Quran, dia berusaha menghafalnya, dan itu menjadi beban baginya, maka dia mendapat dua pahala. (HR. Bukhari 4937)

Memperbaiki bacaan dan menghapalkannya sama-sama mendapatkan pahala disisi Allah, menghapalkannya mendapatkan 2 pahala. Semoga kita tetap semangat yaa mempelajari dan menghapal Al-Qur'an wakaupun Ramadhan sudah menginggalkan kita.

Allahu'alambisshowab.

Bandung, 3 Mei 2020
@Yeni_s.m

Rabu, 10 Juni 2020

Pencarian Jati Diri


Pernah dengar kisah Salman Al-Farisi, Salman adalah dari keluarga kaya raya, ayahnya seorang Bupati. tapi apakah Salman berhenti disitu saja, tentu jawabannnya Tidak. Dengan kisah Hijrah yang panjang demi pencarian jati diri pndah dari daerah satu ke daerah lain dari Persia ke Syria, Kemudian Mosul ke Nasibin, Amuria, Kemudian menetap di Wadil Qura’ pada akhirnya Salman sampai di Madinah ujung dari kisahnya bertemu Rasulullah dan masuk Islam.

Kemudian kisah Mush’ab bin Umair seorang yang sangat tampan, kaya raya dan sangat dimanjakan oleh kedua orang tuanya, rela meninggalkan semuanya demi mengikuti Risalah Nabi Muhammad SAW. Di akhir hayatnya ketika meninggal dunia kain kafan pun tak mampu dibeli yang bisa menutupi seluruh badannya, jika kepalanya ditutup maka kaki nya akan terlihat. Sehingga kakinya ditutupi dengan rumput idzkhir.
Dan masih banyak kisah para sahabat lainnya mengenai kisah hijrah yang meninggalkan semua kenikmatan yang dimilikinya.

Tentu dari kisah ini kita dapat mengerti bahwa, Mereka bukanlah mencari Harta, perempuan maupun jabatan.

Sudah banyak orang di Bumi ini focus mencari dan mengumpulkan harta, sedangkan harta tak mampu menolongnya di Akhirat kelak. Bahkan harta-harta nya itu malah menjerumuskan anak-anak dan istrinya untuk foya-foya dan lupa Akhirat. Padahal sebagai kepala keluarga diperintahkan untuk menjauhkan keluarganya dari siksaan api neraka. Sangatlah merugi Anak dan harta nya tak mampu menolongnya untuk masuk ke Surga.

Sudah jelas ya ada 3 hal yang amalnya tidak terputus, harta yang disedekahkan, anak yang soleh dan ilmu yang bermanfaat.
Lantas, apa sebenarnya yang kita cari hidup di dunia ini? Yang hanya hidup di dunia rata-rata  69 Tahunan kecuali orang Jepang ya usia hidupnya lebih tinggi sekitar 83 Tahunan. Kita hidup di Dunia ini hanyalah persinggahan dan hanya diwaktu sore saja.

Padahal  jelas di firman Allah SWT:

Dan tidaklah Aku ciptakan Jin dan Manusia kecuali untuk beribadah kepadaku” 
(Q.S adz-Dzaariyaat ayat 56)

Makna beribadah kepada Allah adalah bentuk penghambaan kepadanya, semua perbuatan amal ibadah hanya ditujukan kepada Nya saja. Bentuk penghambaan ini akarnya adalah iman dan buahnya adalah Akhlaq.

Arti Iman kepada Allah SWT membenarkan dengan hati bahwa Allah ada dengan segala sifat keagungan dan kesempurnaannya mulai dari Ar – Rahmaan Ø§Ù„رحمن (Maha Pemurah) hingga Ash – Shabuur Ø§Ù„صبور (Maha Penyabar) 99 sifat Allah SWT, kemudian di akui dengan lisan dan dibuktikan dengan amal perbuatan di dunia nyata.

Keimanan ini sangat penting bagi kita apakah kita akan masuk syurga ataukah masuk neraka.
Dari Abu Said Al-Khudri r.a. bahwa Rasulullah SAW bersabda, "Setelah penduduk surga masuk ke surga dan penduduk neraka masuk ke neraka, maka Allah Ta'ala pun berfirman, 'Keluarkanlah dari neraka orang-orang yang dalam hatinya terdapat iman walaupun sebesar biji sawi.' Mereka pun dikeluarkan dari neraka. Hanya saja tubuh mereka telah hitam legam bagaikan arang. Oleh karena itu, mereka dilemparkan ke sungai Haya' atau hayat –terdapat keraguan dari Imam Malik. Kemudian tubuh mereka berubah bagaikan benih yang tumbuh setelah banjir. Tidakkah engkau melihat benih tersebut tumbuh berwarna kuning dan berlipat-lipat." Wuhaib berkata, "Amr menceritakan kepada kami, "Sungai Al-Hayat"dan Wuhaib berkata, "kebaikan sebesar biji sawi." hadits Shahih Bukhari ke-22.

Kita menyakini bahwa setelah kematian nantinya kita akan dibangkitkan kembali untuk melewati hari Kiamat dimana harta dan keluarga tidak dapat menolong kita dari siksaan api neraka.

Letakkanlah Dunia digenggamanmu dan Akhirat di Hatimu. Sesungguhnya dunia dikejar akan semakin lari, akhirat dikejar akan semakin mendekat. Kalaupun dunia terlepas dari genggaman maka tidak akan bersedih atas kehilangannya, akan tetapi jika tidak bisa beramal untuk akhirat maka bersedihlah. Dunia kita cari, kita hanyalah mendapatkan setetesnya saja, kalaupun kehilangan kita hanya kehilangan setetesnya juga.

Jati diri kita hanyalah sebagai hamba Allah yang diciptakan untuk beribadah kepadaNya baik secara lisan, hati dan fikiran serta perbuatan yang ditujukan hanya untuk Nya. Kita percaya dan menyakini bahwa Nabi Muhammad adalah utusannya, kitab-kitab Nya, Para Malaikat, Qada dan Qadar dan Hari Kiamat. Hari kiamat, Hari pembalasan semua amalan perbuatan kita di Dunia.

Jangan sampai Jati diri ini kita menyadarinya setelah kita berada di Hari Kiamat, dimana kita tidak bisa lagi kembali ke Dunia dan beramal saleh. Sebelum terlambat dan masih diberikan nafas dan umur mari kita mulai dari sekarang.
Mari kita Ta’atin apapun perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya.
Allahu’alam Bisshowab.

Bandung, 9 Juni 2020
@yeni_s.m


Jumat, 29 Mei 2020

Inilah Pemimpin Para Kaum Wanita Seluruh Alam


Khadijah Binti Khuwailid r.a

Ia adalah wanita yang dikenal dengan julukan Ath-Thahirah (Wanita Suci) yang terkenal kaya raya, terhormat, keturunan bangsawaan dan cantik. Wanita seperti ini yang menjadi incaran para  pemimpin Quraisy namun ditolak pinangannya karena Bunda Khadijah tidak mengincar harta benda mereka melainkan jiwa mereka, Bunda Khadijah lahir di Ummul Qura (Mekah) sekitar lima belah tahun sebelum tahun gajah. Ummul Qasim binti Khuwailid bin Asd bin Abdul Uzza bin Qushai bin Kilab Al-Qurasyiyah Al-Asadiyah.

Kala itu, malam itu tidak seperti biasanya, Bunda memimpikan memimpikan matahari besar turun dari langit Mekah dan berada didalam rumahnya, memenuhi seluruh isi rumah dengan cahaya dan keindahan. Cahaya dari dalam rumah memancar ke sekelilingnya hingga menyilaukan jiwa sebelum menyilaukan pandangan karena sangat terang.

Tidak berdiam diri, ke esokan paginya bunda cepat-sepat mendatangi sepupunya Waraqah bin Naufal. Menuturkan mimpinya belum tuntas pembicaraannya. Wajah Waraqah berbinar dan tersenyum sambil berkata kepada Khadijah, “Bergembiralah wahai saudara sepupuku! Jika Allah membenarkan mimpimu, cahaya nubuwah akan masuk ke dalam rumahmu, dan dari sana cahaya penutup para nabi akan memancar”.

Sejak saat tu, Bunda menjalani hidup di atas harapan semoga mimpinya menjadi nyata dan sumber kebaikan untuk umat manusia dan sumber cahaya dunia. Setiap kali ada seorang pemimpin Quraisy datang meminang, Bunda selalu mengukur lelaki tersebut dengan mimpi yang ia alami dan penafsiran yang ia dengar dari saudara sepupunya. Namun hingga detik itu, sifat-sifat penutup para nabi tidak cocok dengan para lelaki yang dang datang meminang dan berdekatan dengannya. Bunda menolak mereka dengan cara yang baik.

Bunda adalah saudagar wanita yang biasa menyewa jasa sejumlah lelaki untuk memperdagangkan harta miliknya. Sementara Quraisy sendiri adalah kaum pedagang. Ketika mendengar kejujuran tutur kata, besarnya amanat dan kemuliaan akhlak Rasulullah SAW, Bunda mengirim utusan untuk menemui beliau.

Bunda menawarkan untuk memperdagangkan harta miliknya ke Syam dan bersedia memberikan imbalan terbaik yang pernah ia berikan kepada para pedagang lain. Rasulullah SAW menerima tawaran bunda kemudian pergi membawa harta dengan ditemani budak miliknya, Maisarah.
Rasulullah SAW sejenak beristirahat dibawah naungan pohon di dekat biara seorang rahib. Dari atas biara, si rahib melihat Misarah lalu bertanya kepadanya, “Siapa lelaki yang istirahat di bawah pohon itu?” Maisarah menjawab, “Dia orang Quaraisy dari penduduk tanah Haram”. Si rahib kemudian berkata kepadanya, “Tidak ada seorang pun yang istirahat di bawah pohon itu selain Nabi”.
Rasulullah SAW mendapat keuntungan dua kali lipat dari barang-barang yang dijual. Sepulang dari Syam, Maisarah menuturkan ke Bunda sebagaimana dituturkan orang-orang, selalu melihat dua kalimat menangui beliau dari sinar matahari. Kala itu panas terik tatkala beliau menunggangi unta.

Khadijah terus memikirkan berbagai penuturan dan kisah Maisarah serta kata-kata saudara sepupunyya. Suatu ketika ditengah kebimbangan dan guncangan, Nafisah binti Munabbih, temanya, datang dn duduk untuk berbincang. Hingga akhirnya Nafisah mampu mengungkapkan rahasia tersembunyi dibalik wajah dan intonasi tutur kata Bunda. Begitu keluar dari dari rumah bunda. Nafisah langsung menemui nabi Muhammad SAW dan berbicara kepadanya agar menikahi ATH-Thahirah Khadijah. “Muhammad kenapa kau tidak menikah?” Tanya Nafisah.
“Aku tidak punya apa-apa untuk menikah,” sahut beliau.
Jika engkau dicukupi dan diajaki menikah dengan seorang waanita yang berharta, cantik, dan mulia, apakah kau mau menerimanya?”
“Siapa dia?” sahut beliau
“Khadijah binti Khuwailid,” jawab Nafisah seketika.
“Kalau dia mau, aku menerima tawaran itu,” sahut Rasulullah SAW.
Bunda Khadijah dan Nabi Muhammad pun menikah dengan mahar 20 ekor unta. Setelah akad selesai, hewan-hewan disembelih lalu dibagi-bagikan kepadaa orang-orang fakir.
Bunda Khadijah kala itu berusia 40 tahun, usia keibuan yang sudah matang. Sementara Nabi Muhammad SAW berusia 25 Tahun, usia kematangan seorang pemuda.

Awal mula wahyu Rasulullah SAW setiap kali memimpikan sesuatu, pasti terjadi seperti cahaya subuh. Beliau kemudian suka menyendiri di Gua Hira , hingga kebenarn datang kepada beliau kala berada di dalam gua Hira.

Sesampai pulang membawa Wahyu ini dengan sekujur tubuh menggigil, hingga masuk menemui bunda lalu Rasulullah berkata “Selimutilah aku, selimutilah aku!” Bunda menyelimuti beliau hingga rasa takut hilang. Setelah itu, beliau berkata kepada Bunda, “Wahai Khadijah, kenapa aku ini?” Beliu menceritakan apa yang terjadi, setelah itu beliau berkata,”Sekali-kali tidak! Bergembiralah, karena demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya, kau menyambung tali keekeluargaan, jujur bertutur kata, menanggung beban, membantu orang miskin, menjamu tamu dan membantu orang kesusahaan.”

Bunda Khadijah r.a adalah orang pertama yang masuk islam, demikian juga dengan putra-putrinya. Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum dan Fatimah binti Rasulullah dan putranya Al-Qashim, Abdullah dan Ibrahim bin Rasulullah.

Bahkan, siapapun yang ada di dalam Rumah yang diberkahi ini tergolong di antara mereka yang bersegera masuk islam, seperti Ali bin Thalib dan Zaid bin Haritsah.
Mampukah istri selain Bunda Khadijah yang kaya, dan bergelimang kenikmatan dengan rela hati melepaskan diri dari segala kenyamanan, kelapangan dan kenikmatan yang sudah terbiasa ia jalani.

Ia menenangkan beliau kala resah, melegakan beliau kala lelah, menuturkan beliau memiliki banyak kelebihan, menegaskan kepada beliau bahwa orang-orang baik seperti beliau takkan pernah terhina.
Diriwyatkan dari Anas r.a, ia berkata “Jibril datang kepada Rasulullah SAW saat itu Khadijah berada di dekat beliau. Jibril lalu berkata, “Sungguh, Allah SWT mengucapkan salam kepada Khadijah.” Khadijah kemudia berkata, ”Allh-lah Yang Maha Pemberi keselamatan. Semoga kesejahteraan juga berlimpah kepda Jibril, semoga kesejahteraan, rahmat dan berkah Allah juga berlimpah kepadamu.
Nabi Muhammad SAW belum pernah menikahi seorang wanita pun sebelum Khadijah bahkan tidak memadu Khdijah hingga Khadijah meninggal dunia.

Diriwayatkan dari Aisyah r.a, ia berkata, “Aku tidak cemburu pada istri-istri Nabi SAW selain kepada Khadijah, padahal aku tidak menjumpainya. Ia meneruskan, Ketika Rasulullah SAW menyembelih kambing, beliau berkata, kirimkan ini kepada teman-teman Khadijah. Ia meneruskan, suatu hari, aku membuat beliau marah, aku berkata, Khadjah! Rasulullah SAW berkata, sungguh, aku dikaruniai cintanya.”

Diriwayatkan dari Aisyah r.a, ia berkata, “Rasulullah SAW ketika teringat Khadijah, beliau memujinya dengan baik.”Aisyah menuturkan, Suatu hari aku cemburu, aku lantas berkata, Kau sering kali menyebut si mulut merah itu. Allah telah memberimu pengganti yang lebih baik darinya”

Beliau berkata, “Allah memberiku pengganti yang lebih baik darinya? Ia beriman kepadaku kala orang-orang ingkar padaku. Ia membenarkanku kala orang-orang mendustakanku. Ia membantuku dengan hartanya kala orang-orang tidak memberiku. Dan Allah memberiku anak-anaknya kala ia tidak memberiku anak-anak dari wanita-wanita lain”.

Bandung, 17 Maret 2020
@Yeni s.m

Senin, 30 September 2019

Resume Buku “Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia”


Resume Buku “Sumbangan Peradaban Islam pada Dunia”
Oleh Yeni S.M
Karya Prof. Dr. Raghib As-Sirjani
Penerbit Pustaka Al-Kautsar

Isi buku ini menjelaskan betapa pada zaman ketika peradaban islam masuk negara-negara islam pada waktu itu sangat maju, mulai dari bidang keilmuan hingga bangunan fisik membuat negara-negara Eropa pada saat itu tercengang.

Penulis resah melihat kondisi keterburukan islam saat ini dimana ummat islam disudutkan dengan sebutan keterbelakangan, kuno, penuh dengan kebodohan hingga fitnahan sedangkan umat islam tidak mampu berbuat apa-apa karena ketidakpunyaan kekuatan (power) dalam segala hal. Ummat islam saat ini tidak mampu menangkis fenomena tersebut hanya diam, mulut bagaikan tak punya sajak, hati hampa, mata buta, hal ini menggambarkan kondisi ummat islam kebanyakan saat ini.

Dari hasil keresahan penulis ini terciptalah karya fenomenal dengan buku yang berjudul “Sumbangan Peradan Islam pada Dunia” Dalam kitab asli berjudul Madza Qaddamal Muslimun Lil ‘Alam Ishamaatu al-Muslimin Fi Al-Hadharah Al-Insaniyah”.

Penulis ingin memaparkan betapa majunya dan pesatnya perkembangan peradaban islam kala itu. Sehingga, ummat islam yang membaca buku ini kembali tersuntik semangatnya untuk menghadirkan kembali kejayaan peradaban ummat islam dalam segala hal mulai dari politik, bidang keilmuan, kesehatan, pertanian hingga perekonomian.

Dalam hal ini kita perlu berdiam diri merenung dan membaca sejenak sejarah sebab-sebab kegemilangan. Kondisi umat akhir ini takkan menjadi baik jika tidak melihat kebaikan generasi pertama. Mempelajarinya bukan untuk kesombongan dan kebanggan melainkan mengembalikan yang hak kepada ahlinya membuat koridornya dan meluruskan jalannya.

Buku ini meraih pernghargaan dari Presiden Mesir Husni Mubarak r.a bidang Ad-Dirasah Al-Islamiah pada tahun 2009 melalui Kementrian Waqaf pada hari rabu 26 Ramadhan 1430 H/16 September 2009. Buku ini terdiri dari 2 buku, buku pertama terdiri dari 5 BAB yang diterjemahkan oleh Sonif, Lc. Sedangkan Buku 2 terdiri dari 8 BAB yang diterjemahkan oleh Masturi Irham, Lc dan H. Malik Supar, Lc.

Peradaban menurut orang-orang terdahulu hanya meliputi tempat tinggal berupa fisik. Dengan berkembangnya seluruh kehidupan manusia mulai ilmu pengetahuan, keahlian, ketatanegaraan hingga perekonomian. Peradaban diartikan bukan hanya tentang suatu kebutuhan primer kehidupan. Menurut penulis buku ini peradaban adalah kekuatan manusia untuk mendirikan hubungan yang seimbang dengan Tuhannya, hubungan dengan manusia yang hidup bersama mereka, dengan lingkungan pertumbuhan dan perkembangan, vertical hamblumminallah dan horizontal hamblumminannas.

Pertengahan sekitar abad ke-10 Masehi suasana kota-kota dunia Islam dan kota-kota dunia Barat sangat jauh berbeda. Kota-kota islam pada saat itu penuh dengan kehidupan, kekuatan dan peradaban sedangkan dunia Barat kebalikannya primitive, tak mengenal ilmu pengetahuan apalagi peradaban dan kuno.
Inggris Anglo-Saxon pada abad ke-7 M hingga abad ke-10 M merupakan negeri tandus, terisolir, kumuh dan liar. Rumah-rumah dibangun dengan batu kasar tidak dipahat apalagi diperkuat maupun diperhalus dan berlantai tanah. Hal ini tertuang didalam buku sejarah umum karya lavis dan Rambou.

Eropa pada masa itu hutan belantara, system pertaniannya terbelakang. Rumah-rumah di Paris dan London dibangun dari kayu dan tanah dicampur dengan jerami dan bambu. Rumah-rumah itu tidak berventilasi dan tidak punya kamar-kamar yang teratur. Mereka tidak punya permadani apalagi tikar hanya ada jerami-jerami yang diserakkan diatas tanah.

Kondisi Eropa berbeda jauh dengan kota-kota besar Islam kala itu seperti Baghdad, Damaskus, Cordoba, Granda dan Sevilla. Kota-kota ini begitu menakjubkan dimalam hari jalan diterangi lampu sepanjang 10 mil. Istana Al-Hamra di Granada begitu mempesona dan mencengangkan. Baghdad kala itu di zaman Khalifah Al-Mansur mendatangkan insyinur teknik, arsitek dan pakat ilmu ukur untuk membangun Baghdad. Di sungai Tigris terdapat 30.000 ribu jembatan, tempat mandinya 60.000 buah dan masjid-mesjid mencapai 300.000 buah.

Kondisi Arab sebelum masuknya islam yang dikenal dengan masa Jahiliyah yang disebut dalam sejarah Arab dengan sebutan Tarikh Al-Jahilia.  Kondisi mereka pada saat itu penuh dengan kekolotan dan perpecahan. Mereka hidup dalam kabilah-kabilah dan berpindah-pindah, pemuh dengan keboodohan dan kelalaian, tidak mengetahui dunia luar, penyembah berhala dan tidak berinteraksi dengan dunia lain.

Dalam hal pernikahan terdapat 4 bentuk pernikahan pada zaman itu, zina merupakan kebiasaan yang lumrah terjadi, meminum khamar merupakan kebiasaan yang mengakar. Kedudukan wanita di zaman Jahiliyah sangat tidak disukai sehingga pada zaman ini tidak hak waris sama sekali untuk wanita. Jika mereka melahirkan seorang anak perempuan maka merah padamlah mukanya (An-Nahl: 58-59). Mereka sangat tidak suka anak perempuan, aib yang memalukan sehingga mereka  akan mengubur hidup-hidup anak perempuan yang baru lahir.

Mereka juga bermuamalah dengan riba sampai-sampai dikatakan “Sesungguhnya jual beli itu seperti riba”. Inilah kondisi Arab sebelum Islam masuk.

Sekilas tentang dunia sebelum islam

Jika kita melihat keadaan dunia pada masa sebelum islam masuk, benar-benar rusak dari segala aspek mulai dari sisi kehidupan, politik, ekonomi, masyarakat dan agama, penuh dengan kezhaliman tenggelam dalam lautan khufarat dan tahayul, berjalan dengan keserakahan dan hawa nafsu.

Manusia pada saat itu meyembah batu-batu, matahari, api bulan hingga hewan. Mereka membagi kasta-kasta, makan harta anak yatim, memutuskan tali hubungan kekerabatan, saling berbangga dengan keburukan serta dosa-dosa. Tidak ada undang-undang kecuali hukum rimba yang kuat memakan yang lemah, yang kaya menjadikan budak orang miskin semuanya dalam kegelapan tidak berkesudahan dan berakhir serta pula jalan keluar.

Islam datang untuk memperbaki peradaban pada masa itu, Al-Qur’an sebagai hukum sedangkan Sunnah menafsirkan dan menjelaskan perinciannya. Semuanya ada didalamnya mulai dari bidang ilmu pengetahuan, akidah, politik, masyarakat, ekonomi, tarbiyah, akhlak, perempuan, interaksi Negara segala sisi kehidupan untuk menjadikan masyarakat manusia secara paripurna dan Rahmatan lil ‘alamin.

Setelah islam datang Arab yang masa kelam (jahaliyah) yang penuh dengan kebodahan dan tidak mementingkan sejarah berubah 180°, ilmu-ilmu bangsa asing dari mulai Persia, Romawi dan sebagainya diterjemahkan dan dipindah perbendaharaannya menuju ilmu Arab. Didirikan sekolah Iskandariyah dan sekolah Jundaisbar.

Pergerakan penerjemahan mengalami kemajuan yang pesat pada masa Khilafah Abasiyah pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid (170-194 H). Kaum Muslimin menggabungkan peradaban Persia dan India dalam hal ilmiah dan tidak mengambil adab-adab atheis Yunani, tidak menterjemahkan khufarat-khufarat, menjahui pendapat yang rusak dan tidak mengambil filsafat dan agamnaya. Peradaban India diambil dari sisi ilmu hisab (hitung) dan astronomi memelihara dan mengembangkannya. Hal ini bukanlah aib melainkan perbaharuan peradaban manusia sebagaimana pertolongan Allah untuk menyempurnakan perjalanan dan penyempurnaan peradaban masa lalu menjadi sempurna.

Peradaban dari masa ke masa memiliki ciri dan karakteristikmya tersendiri. Peradaban Yunani, peradaban yang lebih pengagungan akal, peradaban Romawi terkenal dengan pendewaan terhadap kekuatan dan perluasana wilayah (ekspansi militer), peradaban Persia lebih memementingkan kenikmatan duniawi dan kekuatan peperangan dan pengaruh politik sedangkan peradaban India terkenal dengan kekuatan spritualitas. Peradana Islam menyempurnakan peradaban-peradaban sebelumnya universalitas, Tauhid, Seimbang, moderat dan penyempurnaan Akhlak.

Sumbangansih kaum muslimin pada saat itu sangat luar biasa mulai dari ilmu kedokteraan, fisika, arsitektur, geografi dan astronomi serta penemuan-penemuan dibidang lainnya.

Siapa yang tidak kenal Az-Zahrawi orang pertama penemu teori pembedahan di ilmu kedokteran. Seorang pakar ilmuan besar di biang tubuh Hallery mengatakan “Seluruh pakar bedah Eropa sesudah abad ke-16 menimba ilmu dan beropatokan pada pembahasan buku Az-Zahrawi .” kemudian siapa yang tidak kenal dengan Ibnu Sina orang yang pertama kali menemukan tatacara pengobatan penyakit-penyakit menular seperti penyakit cacar dan penyakit campak. Ilmuan muslim fisika kita kenal Harun As-Sakandria, Abu Raihan Al-Biruni, Al-Khazani, kemudian ada Habbatullah bin Malka Al-Baghdadi. Jauh sebelum Newton menemukan teori Gravitasi ilmuan muslim Al-Hamdani sudah terlebih dahulu membuat teori dasar seputar gravitasi, kemudian ilmuan muslim lain Abu Raihan menguatkan apa yang telah ditemukan Al-Hamdani.

Ilmuan muslim ahli filsuf Abu Yusuf Al-Kindi yang memperkenalkan medan ilmu alamiah dan ilmu pandangan (mata) serta menjelaskan cahaya dan cara pengobatannya yang diterangkan didalam bukunya berjudul Al-Manazhir. Bukunya ini telah diangkat dalam siding-sidang ilmiah Arab, kemudian bangsa Arab pada masa pertengahan. Kemudian ada juga ilmuan muslim Hasan bin Haitsman orang yang pertama yang menemukan teori-teori pantulan dan kecondongan dalam ilmu cahaya.

Ilmuan muslim yang ahli dibidang arsitek Al-Birumi teori-teori dan motif Arsitektur. Ilmuan muslim yang berkaitan dengan teori keseimbangan Nashiruddin Ath-Thusi. Kemudian ilmuian muslim lain Taqiyuddin Asy-Syami.

Ilmuan muslim yang sangat fenomenal Al-Khawrizmi yang memperkenalkan ilmu Al-Jabar dan Al-Muqabalah (pembanding), ilmuan lain ahli matematika Bahauddin Al-Amili.

Teori Plato (348 SM) teori perdananya mengatakan bumi ini bulat akan tetapi hanya itu tanpa dengan argumentasi yang kuat. Kemudian Bapak Geografi dari Bangsa Yunani Hektatius (500 M) menyakini bahwa bumi berbentuk bulat. Bangsa Romawi menolak pemikiran Cosmos salah seorang Bapak Geografi Bangsa Romawi (547 M) ia menulis “Alam semesta ini menyerupai roda”. Pendeta gereja yang pertama yang dipimpin oleh Liktanyius menentang keras teori ini mereka mengatakan bahwa bumi itu datar.  Teori-teori dari ilmuan Yunani dan Romawi tidak menjelaskan secara spesifik mengenai bumi.

Kemudian ilmuan muslim seperti Ibnu Khardzabah (242 H/885 M) mengatakan “Bumi itu berputar sebagaimana perputaran bola, tempatnya seperti muhhah (kuning telur) dan pendapat ilmuan muslim lainnya Ibnu Rustah (290 H/903 M) mengatakan bahwa “Allah meletakkan galaksi berputar dan tempat diamnya di tengah galasi tata surya”. Kemudian ilmuan-ilmuan mulim lainnya Syarif Al-Idris, Khalifah Al-Abbasi Al-Ma’mun (218 H/883 M), Abu Ali Al-Marakisyi (660 H/1261 M), Ali bin Umar Al-Katabi, Al-Batani, Qutubuddin Asy-Syirazi dari Andalusia dan Abu Faraj Ali dari Suriah ikut sumbangsih dalam perkembangan teori tentang geografi.

Ilmuan astronom muslim ada Al-Farghani, Al-Batani, Abdurrahman As-Sufi, Abu Wafa’ Al-Buzajani, Abu Ishak An-Naqash Az-Zarqani, Al-Khawarizmi, Abu Basar Bahauddin Al-Kharaqi, Badi” Al-Asthralabi, Ibnu Syathir inilah sederet ilmuan muslim yang ahli dibidang astronomi.

Ilmuan-ilmuan muslim yang menemukan penemuan baru sungguh banyak seperti ilmuan muslim bernama Khalid bin Yazid, Jabir, Iman Ar-Razi (311 H/923 M), Ibnu Al-Awwam Al-Isybili.

Ilmuan-ilmuan lain seperti Al-Jauhari, Al-Kindi, Ar-Razi, Al-Farabi, Al-Mas’udi, Al-Khawarizm, Ikhwan Shafa, Al-Biruni, Al-Idrisi, Yakut Al-Himawi, Al-Quzuni dan ilmuan yang pertama dalam menulis buku tentang masalah bebatuan dengan bahasa Arab adalah Athar bin Muhammad Al-Hasib.

Orang-orang Barat yang memusuhi kaum muslimin mencoba mengecilkan kontribusi ilmuan muslim dalam hal perkembangan bidang keilmuan. Mereka mengklaim bahwa kaum muslimin hanya mahir menguasai beberapa disiplin ilmu pengetahuan yang tidak membutuhkan banyak pemikiran dan penggunaan akal seperti geografi dan sejarah.

Ada juga beberapa orang Barat yang berkata jujur tekait perkembangan peradan islam yang begitu berkembang pesat mulai keilmuan hingga karya-karya yang artistic.

Briffault seorang sejarahwan berkebangsaan Amerika mengatakan “Tidak satu pun kemajuan peradaban di Eropa kecuali secara menyakinkan dan pasti telah mengambil dari kemajuan peradaban islam”.

Sigrid Hunke mengatakan “Dalam kenyataannya sebenarnya Ruggero Bacone, Bacofon Farolam, Leonardo da Vinci maupun Galileo bukanlah peletak metodologi penelitian ilmiah, Akan tetapi, kaum muslimin Arab telah mendahului mereka dalam bidang ini. Adapaun yang diteliti Ibnu Al-Haitsam Al-Khazin yang namanya sudah terkenal bagi orang-orang Arab tidak lain kecuali ilmu pengetahuan alam modern dengan kelebihan di teorinya yang cermat dan risetnya yang detil, dan penemuan-penemuannya telah mewarnai ilmu-ilmu pengetahuan di Eropa sampai sekarang ini”.

Max Fantigo mengatakan “Setiap apa yang terlihat di Barat mengukuhkan bahwa Barat telah berhutang kepada peradaban Arab Islam. Sesungguhnya metode riset modern yang pelaksanaannya didasarkan observasi, pengamatan dan uji coba, disamping segala sesuatu yang digunakan ilmuan Eropa dewasa ini, itu tidak lain karena hasil interaksi ilmuan Eropa dengan dunia islam melalui Daulah Islam Arab di Andalusia (Spanyol)”.

Daniel Briffault berkata, “Sejak tahun 700 masehi, cahaya peradaban Arab islam mulai berkibar membentang dari Timur Tengah menuju arah timur sampai daerah Persia dan Barat sampai ke Spanyol. Mereka telah mengembalikan penemuan-penemuan sebagian besar ilmu pengetahuan klasik dan membukukan penemuan-penemuan baru yang mereka temukan dalam bidang matematika, kimia, fisika dan ilmu-ilmu lain. Dalam keadaan yang demikian ini seperti di selainnya maka kaum muslimin Arab merupakan guru bangsa Eropa karena kaum muslimin telah menyumbangkan saham besar demi mengantarkan kebangkitan ilmu-ilmu pengetahuan di benua Eropa”.

Sebenarnya masih banyak lagi pernyataan ilmuan-ilmuan Barat yang mengakui tentang pengaruh penemuan-penemuan ilmuan muslim hingga ke Eropa disegala bidang keilmuan yang dijelaskan didalam buku ini.

Akhir dari kata-kata penutupan penulis begitu mengenak didalam lubuk hati paling dalam. Penulis bertanya kepada pembaca setelah membaca perjalanan singkat buku ini, menelusuri relung-relung sejarah islam dan gerbang peradaban kita yang indah maka penulis bertanya “Apa harapan yang dapat kita perbuat setelah mengetahui semua ini?” “Apa peran kita sebagai muslim yang ingin meraih kembali peradaban dan masa depan gemilang?”.

Keberhasilan peradaban islam yang menjangkau setiap sendi-sendi kehidupan bukan terbatas di tempat shalat atau di medan jihad saja.

Ada 3 langkah dari penulis agar peradaban ummat islam kembali Berjaya dan kokoh seperti dahulu. Langkah pertama adalah dengan kembali mengikuti Al-Qur’an dan As-Sunnah.

Apabila kita ingin peradaban ummat islam kembali cemerlang dan berdiri kokoh maka jangan sekali-kali bepegang teguh kecuali syariat islam dan jangan sekali-kali memilih kecuali agama Allah SWT telah berfirman:
“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatau ketepan akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya dia telah sesat, sesat yang nyata.” (Q.S Al-Ahzab: 36).

Yang dimaksud kesesatan disini adalah meninggalkan pesan Al-Qur’an dan As-Sunnah, sebagaimana sabda Rasulullah SAW “Aku tinggalkan untuk kalian dua hal, yang kalian tidak akan tersesat selama kalian berpegang teguh dengan keduanya, Al-Qur’an dan Sunnahku.”

Langkah kedua adalah mempelajari, memahami dan mendalami dasar-dasar dan sumber-sumber keilmuan mulai dari sains, politik, pemikiran, ekonomi, hukum pengadilan, kesenian, dan lain sebagainya. Ilmu yang berguna untuk di dunia maupun di akhirat.

Langkah terakhir adalah menyampaikannya atau mendakwahkannya hingga penjuru dunia. Sehingga dunia hingga pelosok negeri tahu bahwa sebab kemulian ini bersumber dari agama islam yang agung. Sesungguhnya risalah islam tidak turun untuk penduduk di Semanjung Arabia saja, namun diperuntukkan bagi semesta alam.

 Allah SWT berfirman:
“Dan tidaklah kamu mengutus kamu melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam (Al-Anbiya:107).”
Kalimat terakhir yang disampaikan penulis buku ini adalah bahwa telah tidak waktu kita untuk mengangkat kepala kita tinggi-tinggi dan berteriak kepada seluruh makhluk bahwa kita seorang muslim!.

Kita tak kan pernah ragu bahwa kembalinya kaum muslimin memegang peradaban dunia akan menjadi kenyataan dan orang-orang yang berada di tempat jauh maupun dekat akan melihatnya. Akan tetapi, penulis berharap kepada kita semua untuk bersatu membangun mercusuar peradaban agung ini. Allah berfirnan, “Mereka akan menggeleng-gelengkan kepala mereka kepadamu dan berkata, “Kapan itu (akan terjadi)? “Katakanlah, “Mudah-mudahan waktu berbangkit itu dekat.”(Al-Isra’:51). Harapan terakhir penulis “memohon kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, semoga Allah memuliakan islam dan kaum muslimin.”.

Pertumbuhan Dinasti-Dinasti pada masa Abbasiyah

Berkuasa sekitar 767 tahun dari tahun 750   M s.d. 1517 M didirikan oleh Abbdullah bin saffah. Wilayah kekuasaan Abbasiyah meliputi Maroko...